Senin, 22 Agustus 2016

Ayah, maafkan aku

Alkisah ada sebuah keluarga yang kaya raya yang terdiri dari seorang anak laki-laki dan seorang ayah. Mereka hidup bahagia dan bergelimang harta. Rumahnya yang kokoh  dan mobil keluaran terbaru menggambarkan betapa mewahnya kehidupan mereka. Ditambah lagi pekerjaan sang ayah sebagai penguasaha ternama membuat mereka semakin terhormat. Namun malang, sosok ibu tidak dapat menemani anak laki-laki kecil yang diberi nama Firdaus sejak lahir karena saat melahirkan sang ibu mengalami pendarahan hebat yang mengakibatkan nyawanya tak terselamatkan. Meskipun sang ibu telah tiada, namun sosoknya dapat digantikan oleh sang ayah yang penyayang, penyabar, dan juga pekerja keras.

Hari demi hari mereka lewati dengan bahagia. Hingga suatu ketika Firdaus beranjak dewasa. Anak mungil nan lucu yang sering digendong sang ayah, kini menjadi pemuda yang tangguh dan tampan. Firdaus kecil yang dulu sering menangis kini menjadi sosok berpengaruh di lingkungannya. Ia mampu lulus SMA dengan nilai terbaik dan menjadi salah satu mahasiswa di salah satu Universitas ternama di Indonesia.

Firdaus bagai raja di rumahnya karena apapun yang diminta selalu dituruti oleh sang ayah. Suatu ketika ada perbincangan kecil antara Firdaus dan sang ayah. 
"Ayah, bolehkan aku minta hadiah ketika aku lulus kuliah nanti?" tanya Firdaus. 
"Tentu boleh sayang, memang Firdaus mau minta hadiah apa?" tanya sang ayah balik. 
"Aku ingin dapat hadiah mobil yang populer saat ini yah"
"Waw... itu kan mahal sekali"
"Please yah. boleh yaa.... toh aku kan bisa naik mobil" rayu Firdaus.
"Oke deh pasti ayah belikan, tapi ada syaratnya" pinta sang ayah
"Apa yah??" pikir Firdaus
"Kamu harus jadi mahasiswa terbaik dan membanggakan ayah ketika wisuda nanti. sanggup?" tantang sang ayah`
"Sanggup yah, siap. Makasih ya ayah"

Firdaus yang kini masih semester 5 lebih giat lagi belajar agar bisa menjadi mahasiswa terbaik seperti yang ayah mau. Hari demi hari, minggu demi minggu, ia lewati dengan belajar tiada henti, hingga akhirnya sidang skripsi di depan mata. Pagi hari ia meminta restu pada sang ayah karena ia mau menjalani sidang skripsi. 
"Ayah doakan Firdaus ya karena hari ini Firdaus mau sidang skripsi" 
"Wah.. anak ayah udah mau lulus aja. semngat ya.. ayah yakin kamu pasti bisa" seru sang ayah

Sidang skripsi pun berjalan lancar hingga akhirnya "Firdaus selamat anda LULUS dengan predikat "Dengan Pujian" dan Anda menjadi Mahasiswa terbaik tahun 2016. Sekali lagi selamat" ungkap salah satu dosen Penguji. Firdaus keluar dari ruangan dengan wajah yang sumringah dan bahagia. Seakan tidak ada kata yang mampu menggambarkan kegembiraannya. "Ini berita bagus, ayah pasti senang" bisik dalam hati. 


Satu bulan kemudian, Wisuda tahun 2016 di universitas tersebut dilaksanakan. Satu per satu wisudawan dan wisudawati dipanggil naik ke podium dengan rasa haru dan bangga di setiap masing-masing jiwa. Sampai di puncak acara yang ditunggu-tunggu yaitu pengumuman mahasiswa terbaik. Rektor menyampaikan bahwa  mahasiswa berprestasi jatuh kepada Firdaus. Dengan bangga dan bahagia Firdaus meneruskan langkahnya untuk naik ke podium yang ke 2 kalinya untuk memberikan sambutan. Di akhir sambutannya, ia berkata “Ayah, tropi ini untukmu.. terimakasih telah membimbingku hingga saat ini. Sang ayah dengan mata berkaca-kaca hanya bisa memandang dan bertepuk tangan saat Firdaus turun dari podium.

Tepat di tempat parkir setelah acara khidmat itu usai, Firdaus bertanya, “Ayah apa engkau masih ingat akan janjimu padaku?”
“Tentu ayah ingat, ayah akan memberikanmu hadiah ketika kau jadi wisudawan terbaik kan”
“Kalau begitu mana yah? Pinta Firdaus.
Seketika itu sang ayah mengambil sebuah kotak kecil di dalam mobil sembari berkata “Ini Firdaus, hadiah untukmu, semoga kau suka..” kata ayah.
Dengan wajah senang dan sedikit bingung, Firdaus perlahan membuka bingkisan kotak kecil dari sang ayah. “Ayah, kenapa kau hanya memberi Al-Qur’an kecil ini? Bukankah kau berjanji padaku akan membelikaanku mobil?” kata Firdaus dengan nada tinggi.
Setiap sang ayah mencoba menjelaskan, Firdaus terus berkata tiada henti sambil marah-marah.
“Aku sudah belajar mati-matian namun ini balasan ayah? Bahkan aku bisa membeli 10 al-quran seperti ini yah.. kalau ayah tak sanggup membelikanku mobil. Tak usah berjanji padaku. Aku akan beli mobil yang aku impikan dengan uangku sendiri. Aku akan pergi mencari kesuksesan dan kebahagiaanku sendiri. Aku tak butuh kado dari ayah” kata Firdaus sambil membanting ke tanah hadiah pemberian sang ayah dan pergi entah kemana.
Sang ayah hanya bisa meratapi sikap sang anak yang sangat menyayat hatinya. Namun apa daya, ia harus rela apabila anaknya memang benar-benar tak kembali ke rumahnya.

Sembilan tahun berlalu semanjak kejadian di tempat parkir itu, Firdaus tak pernah sedetikpun menengok keadaan sang ayah. Kehidupannya kini luar biasa. Ia bahkan bisa membeli mobil yang ia damba-dambakan ketika kuliah. Istrinya cantik dan satu anaknya yang sangat lucu. Keluarganya pun hidup bahagia.

Suatu ketika ia mendapat kabar dari seorang kerabat ayahnya. “Firdaus, pulanglah ke rumahmu! Ayahmu sudah menghadap ilahi sekitar satu minggu yang lalu. Tengoklah rumah dan kuburan ayahmu” kata kerabat sang ayah.

Esok harinya Firdaus memutuskan pergi ke rumah yang ia dan ayahnya dulu pernah tempati. Ia pergi seorang diri tanpa ditemani sang istri. Sesampainya di rumah, ia memandangi foto-foto yang bergantung di dinding yang semuanya masih sama seperti dulu. Ia juga memandangi seisi rumah dengan hati yang sedikit iba hingga akhirnya ia menemukan kotak kecil yang dulu pernah ayahnya berikan ketika ia menjadi wisudawan terbaik. Ia buka perlahan, isinya masih sama yaitu sebuah al-qur’an yang terlihat kusam. Ia buka lembar demi lembar hingga menitikan airmata. Ia buka hingga halaman terakhir, dan ternyata di halaman terakhir tersebut ada sebuah KUNCI. Seketika itu ia berlari menuju garasi rumah sang ayah, betapa takjubnya ia bahwa mobil yang ia dambakan dahulu ada di depan mata beserta foto sang ayah dan dirinya tergantung di kaca mobil. Mobil yang tadinya dijadikan hadiah untuk Firdaus telah menjadi kusam tak terurus. Hancur hati Firdaus kala itu, “ayah maafkan Firdaus, Maafkan Firdaus telah suudzon. Maafkan Firdaus tak menemani ayah ketika ajal menjemput. Maafkan firdaus yang kala itu membentak ayah.” Ronta Firdaus. Firdaus sangat menyesal karena telah mengecewakan sang ayah.

Dari cerita diatas, kita dapat belajar bahwa kasih sayang orang tua tak akan pernah bisa kita balas sampai kapanpun. Sayangi orang tua mu selagi masih ada, dan doakan mereka jika telah tiada.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar