Selasa, 19 Desember 2017

Berpendidikan itu harus, Kaya tidak

Sendiri, aku duduk termangu dengan buaian angan tentangmu. Daun kelapa yang rindang berkelok cepat saat angin menerpa. Suara ombak yang begitu indah bagai nyanyian turki nan merdu turut menemaniku. Air laut pun mengalir maju membasahi hamparan pasir putih dengan suara khas gemerciknya dan seketika kembali ke asalnya. Sayup-sayup angin seakan menebas seluruh luka di hatiku, memanggilku lirih untuk mengingatmu lagi. Sudahlah, kau hanyalah kenangan masa lalu. Buatku, yang terpenting adalah masa depan. Gelar pendidikan master of science yang melekat di belakang nama pendekku, membuatku berpikir bahwa kehidupan akan lebih mudah dengannya. Dengan pendidikan, aku pernah bercita-cita ingin mengubah negara ku menjadi lebih baik, ya maklum Indonesia memang negara yang carut marut pada pemerintahan, ekonomi, kesejahteraan rakyat, tata kota, dan lainnya. Namun, aku gagal melakukannya hingga aku berpikir untuk mengubah ke lingkup yang lebih kecil yakni provinsiku. Usaha yang begitu keras kulakukan pun hasilnya sama, tak ada yang berubah sedikit saja. Lalu, aku berpikir untuk mengubah desaku, tetap sama sangat susah. Aku terdiam dan merenung sambil disinari rembulan, pikiran itu muncul lagi. Aku akan merubah keluargaku, bukan hal yang begitu sulit bagiku. Namun aku salah, tetap saja aku tak berdaya mengubahnya. Aku pergi ke puncak gunung untuk merenungi apa yang salah sehingga aku tak mampu merubah sedikitpun. Setelah kutelaah dan kucermati, seharusnya aku merubah diriku terlebih dahulu menjadi pribadi yang lebih baik. Maka, aku akan mampu mengubah keluargaku, lingkunganku, provinsiku, bahkan negaraku. Selama ini aku telah salah menilai t pendidikan, nyatanya gelar masterku tidak membawaku pergi ke belahan bumi manapun. Ia hanya mengantarku ke tempat ini, tepi pantai dengan rasa sesal tak berhujung. Yah.. itulah mimpiku.... Tersentak, nada riang mengganggu lamunan dan anganku tentang mimpi. Ternyata itu adalah pesan whatsaap yang kuterima dari seorang teman. Pesan itu berisi tentang:


Nokia dulu menyebut android sebagai semut kecil merah yang mudah digencet dan mati. Arogansi dan rasa percaya diri yang berlebihan membuat Nokia terjebak dalam innovator dilema. Sejarah mencatat, yang kemudian mati justru nokia – tergeletak kaku dalam kesunyian yang perih.Kodak menyebut kamera digital hanyalah tren sesaat dan kamera produksi mereka akan terus bertahan. Kodak terjebak halusinasi dan innovator dilema yang akut. Akibatnya, ruang ICU yang pengap menanti raga mereka yang merintih kesakitan.Microsoft dan intel (dominasi yang dulu dikenal dengan duo wintel) terlalu menikmati kekuasaannya dalam dunia PC dan laptop yang pelan-pelan terjebak innovator dilema. Mereka terbuai dengan kekuasaanya dan lengah betapa dramatis kecepatan kemajuan era smartphone. Dan hegemoni Microsoft serta intel kian menjadi tidak relevan dalam era smartphone. Intel dan microsoft lalu hanya duduk saling bertatapan mata, diam, dan termangu. Dalam rasa penyesalan yang pedih dan pahit. Namun dalam bisnis, penyesalan tidak pernah mendapat tempat terhormat.Pizza Hut terus menerus mengenalkan menu baru setiap enam bulan.Sabun lifebouy berkali-kali melakukan rejuvenasi.Facebook dan Bukalapak juga selalu melakukan evolusi.Nokia kolaps dihantam iphone blackberry di tahun 2007, padahal produsen iphone bukan perusahaan telco, namun dari industri komputer.Koran dan majalah mati bukan karena  sesama rivalnya, namun karena facebook dan social media (remaja dan anak muda tak lagi kenal koran/ majalah kertas. Mereka lebih asyik main Path, IG, atau FB. Pelan tapi pasti industri koran dan majalah akan mati). Televisi seperti RCTI, dan SCTV kelak akan kolaps bukan karena persaingan sesama pemain di industri yang sama, tapi dari makhluk alien bernama Youtube.Di Amerika, jumlah pemirsa televisi di kalangan anak muda dan remaja, menurun drastis. Dan semua lari ke Youtube. Ini juga kelak akan terjadi di tanah air.Industri taksi seperti Bluebird goyah bukan karena pesaing sesama taksi, namun dari layanan taksi independen  berbasis aplikasi.Di banyak negara,  perusahaan taksi konvensional mati digilas Uber dan layanan taksi berbasis aplikasi lainnya.Dan kini produsen Toyota, BMW & Marcedes Benz takut bukan karena persaingan sesama mereka. Namun, karena kehadiran TESLA, yang entah dari mana tiba-tiba melakukan inovasi radikal dengan produk mobil berbasis elektrik, dengan teknologi mobil tanpa sopir atau otonom (Autopilot Hardware).Beberapa minggu yang lalu, mobil seri Tesla3 terjual hingga 300 ribu unit hanya dalam waktu dua hari, padahal unitnya baru dirilis 2018. Jadi indennya dua tahun.Manusia yang dapat segera beradaptasi dengan perubahan keadaan lingkungannya maka dia akan tersingkir dan punah dari lingkungannya.Ide perubahan dan kreatif adalah salah satu wujud syukur.Intinya, jangan terlena dengan “zona nyaman”. Berinovasilah dengan mimpi-mimpi kita.“Kuncinya adalah kerendahan hati dan mau belajar apapun dan siapapun.



Jika semua hal berubah dan berinovasi ke arah yang lebih baik. Maka tidak salah jika lembaga pendidikan yang awalnya badan layanan menjadi badan hukum. Artinya lembaga pendidikan tidak harus menunggu dana dari pemerintah untuk mengembangkan sekolahnya namun bisa melalui usaha sekolah. Sehingga mindset masyarakat tentang sebuah lembaga pendidikan bukan hanya kegiatan mentransfer ilmu dari guru kepada siswa namun sudah berbicara tentang bisnis. Pendidikan yang berguna untuk mengantarkan peserta didik ke masa depan yang lebih baik tentu nyata adanya. Kedepan, pendidikan akan mencetak calon pengusaha muda. Dan semua itu dimulai dari pribadi kita sendiri. Semua sudut pandang tentang suatu hal sudah berubah ke arah yang antimainstream tak terkecuali pendidikan.Hal tersebutlah yang mengobrak-abrik pemikiranku. Aku adalah Sofia sang korban pendidikan. Sering ku dengar statemen bersekolahlah yang tinggi agar kau mendapat pekerjaan yang layak dengan gaji tinggi. Aku lakukan itu. aku mengenyam pendidikan mulai dari taman kanak-kanak hingga ku dapat gelar master di universitas terbaik di negriku. Aku belajar tentang logaritma, linguistik, sejarah, dan sebagainya. Namun, tiada guna itu semua. Sekolah mengajarkanku untuk mengetahui semua materi tanpa mengajari bagaimana bertahan hidup. Sekolah mengajariku memiliki skill yang kompeten tapi tidak mengajari bagaimana menjualnya. Yang lalu biarlah berlalu, nyatanya aku hanya bisa menikmati hidup dengan angin sepoi-sepoi dan berharap masa depan yang lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar